Informasi Pengiriman Tulisan

Untuk teman-teman yang ingin mengirimkan tulisan berupa artikel atau review film/buku/website untuk dimuat di blog ini dapat langsung mengirimkannya ke alamat email bandungcircle@yahoo.com

Thursday, March 8, 2007

[Book Review] The Tragedy of Great Power Politics

John Mearsheimer
The Tragedy of Great Power Politics
(New York: W. W. Norton, 2001, 555 hlm.)


Oleh: Galih Priya Sejati
Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Pada tahun 1990-an, para pemikir neo-realis mulai terbagi kedalam dua divisi, yaitu defensive dan offensive realism. Dipelopori oleh Kenneth Waltz melalui bukunya yang berjudul Theory of International Politics, kaum defensive realist memiliki pandangan bahwa sebuah negara yang tergolong great powers lebih memilih untuk mempertahankan status quo daripada meningkatkan kapasitas powernya, hal ini dikarenakan harga yang harus dibayar untuk melakukan ekspansi umumnya lebih besar daripada keuntungan yang akan mereka dapatkan. Selain itu, defensive realist menganggap bahwa kerjasama yang terjalin diantara great powers dapat mengurangi risiko dari sistem internasional yang anarki dan akan memperkecil dampak dari security dillema. Jadi, teori mereka dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya peningkatan kerjasama yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat setelah Perang Dingin, yang menjadi akhir dari perang diantara dua great powers.

Di pihak lain, offensive realist berpendapat bahwa semua great powers akan selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan power yang lebih dari rival-rivalnya, dengan hegemoni sebagai tujuan utamanya. Inilah klaim yang dibuat oleh John Mearsheimer dalam bukunya The Theory of Great Power Politics. Dia juga mengatakan bahwa pengaruh offensive realism dalam bidang akademik dan kebijakan masih sangat kurang, karena tidak didukung oleh buku-buku yang sophisticated untuk menjelaskan prinsip-prinsip dari offensive realism. Mersheimer menginginkan buku ini menjadi seperti bukunya Waltz, yang sukses menjelaskan defensive realist.

Bab II mungkin merupakan bagian terpenting dalam buku ini, hal ini dikarenakan Mearsheimer menjelaskan tentang asumsi-asumsi dasar dari offensive realism. Bagi Mearsheimer, great powers merupakan aktor rasional yang beroperasi dalam sebuah sistem yang anarki, yang memaksa mereka untuk saling berkompetisi untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing. Yang menjadi tujuan akhirnya bukanlah struggle for power, melainkan bagaimana mereka dapat bertahan dalam dunia yang bersifat self-help. Serupa dengan defensive realism, teori Mearsheimer juga mencakup teori struktural dari politik internasional. Namun, offensive realism dan defensive realism berbeda dalam menjawab pertanyaan mengenai seberapa besar power yang diinginkan oleh negara. Menurut defensive realist, negara menginginkan terwujudnya balance of power, sedangkan offensive realist percaya bahwa tujuan utama dari negara adalah untuk menjadi aktor yang hegemon dalam sistem internasional. Jadi, Mearsheimer melihat bahwa ketika memiliki kesempatan, negara akan mengambil langkah-langkah offensive yang akan membuat mereka memaksimalkan relative power yang dimiliki untuk mencapai hegemoni.

Seperti pemikir neo-realis yang lain, Mearsheimer menganggap bahwa semua great powers pasti bertindak secara agresif, baik dalam sistem politik maupun ekonomi internasional. Karena jika tidak demikian, itu akan menyebabkan kejatuhan mereka. Ketika suatu negara akan menjalin kerjasama dengan negara lain untuk menciptakan tata dunia baru yang dapat memperkecil risiko dari sistem yang anarki, Mearsheimer berpendapat bahwa kerjasama tidak akan dapat terjalin dalam jangka waktu yang lama, karena masing-masing negara akan takut dan saling curiga bahwa negara lain dapat mencurangi sistem yang ada untuk mendapatkan lebih banyak power. Ketika terjalin kerjasama diantara sesama great powers, hal itu akan dipengaruhi oleh logika offensive realism. Dengan kata lain, negara dapat membentuk sebuah aliansi untuk menghalangi atau mencegah aktor lain membangun sebuah kontrol hegemoni di suatu wilayah atau mungkin di dunia.

Tujuan utama dari great powers, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, adalah hegemoni. Namun, Mearsheimer mengatakan bahwa negara great powers yang paling kuat hanya akan dapat mewujudkan hegemoni regional, karena hegemoni global sangat sulit untuk diwujudkan selama masih adanya perebutan power untuk meraih hegemoni regional di seluruh wilayah dunia. Maka, dia berpendapat, bahwa tidak akan pernah tercipta sebuah hegemoni global di dunia ini. Dia juga menambahkan, meskipun AS merupakan satu-satunya regional hegemon saat ini, tapi banyak great powers lain yang sedang berusaha untuk menjadi regional hegemon sebagai tahapan untuk mewujududkan hegemoni global. Tetapi, AS akan tetap meningkatkan powernya karena mereka sangat takut akan munculnya regional hegemon baik di Eropa maupun Asia yang dapat mengancam kontrol dan pengaruh mereka terhadap Dunia Barat.

Apakah sumber power dari negara-negara great powers? Strategi-strategi apa saja yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi kepentingan nasionalnya? Jawaban atas dua pertanyaan penting ini dapat ditemukan pada Bab II sampai dengan Bab V buku ini. Bagi negara yang menjadi great powers, mereka harus memiliki kapabilitas untuk memproyeksikan power diluar wilayahnya. Dengan kata lain, mereka butuh untuk membangun sebuah kekuatan militer yang hebat. Selain itu, great powers juga harus bisa mewujudkan unsur-unsur sosial-ekonomi mereka, seperti kemakmuran ekonomi dan jumlah populasi untuk mendukung terbentuknya kekuatan militer. Jadi, great powers membutuhkan uang, teknologi, dan personil untuk membuat pasukan militer yang siap untuk berperang. Hal ini dikarenakan negara-negara great powers sangat mengandalkan aspek sosial-ekonomi tersebut, yang disebut Mearsheimer sebagai “latent power”, dalam persaingan untuk mencapai hegemoni global. Great powers juga dapat memanfaatkan “latent power” ini dalam masa-masa krisis.

Kapabilitas militer memang dianggap sebagai kekuatan utama dari great powers, Mearsheimer berpendapat bahwa untuk mencapai hegemoni global, great powers harus menginvestasikan sumber daya yang mereka miliki untuk membentuk tentara atau angkatan bersenjata yang terlatih. Menurut Mearsheimer angkatan laut dan udara adalah unit militer yang penting, ini dikarenakan mereka dapat membawa pasukan dalam jumlah banyak ke wilayah peperangan dan juga membatasi kemampuan musuh untuk menggerakan pasukannya, tetapi yang terpenting adalah angkatan darat, karena hanya unit inilah yang dapat menaklukkan dan mengontrol teritori musuh yang umumnya daratan. Jadi, angkatan laut dan udara dapat digunakan dalam memaksa negara lain untuk tunduk atau kalah dalam pertempuran, tapi pada akhirnya, kemenangan total hanya akan dapat terwujud melalui penaklukan wilayah.

Selanjutnya, Mearsheimer berpendapat bahwa diplomasi yang disokong oleh kekuatan militer juga merupakan instrumen penting bagi great powers ketika mereka ingin menghalangi negara lain yang berusaha untuk mewujudkan hegemoni. Oleh karena itu, dua mekanisme utama yang dilakukan oleh great powers untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan balancing dan buck-passing. Dalam balancing, great powers dapat membentuk aliansi dengan negara lain, melakukan ancaman dengan kekuatan militernya, atau memobilisasi pasukan untuk peperangan demi tujuan hegemoni. Sedangkan buck-passing menurut Mearsheimer merujuk pada usaha yang dilakukan great powers dengan cara menggunakan negara lain untuk memikul beban atau sebagai tameng dari usaha menghalangi atau kemungkinan berperang terhadap negara agresor. Jadi dalam buck-passing, great powers tersebut tidak terlibat langsung dalam peperangan, mereka hanya menyokong dana dan senjata kepada negara yang menjadi tamengnya tersebut. Negara-negara great powers cenderung untuk memilih langkah buck-passing dibandingkan balancing, hal ini dikarenakan biaya dan risiko yang mereka tanggung lebih kecil, sedangkan keuntungannya bisa sangat besar.

Bab VI sampai dengan Bab VIII berisi tentang beberapa kasus untuk membuktikan pernyataan-pernyataan sebelumnya. Pendapatnya mengenai great powers yang selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan power yang lebih dari musuhnya dengan hegemoni sebagai tujuannya, dapat dibenarkan dengan melihat kasus-kasus seperti Jepang (1868-1945), Jerman (1862-1945), Italia (1861-1945), dan Uni Soviet (1917-1991). Tetapi menurutnya saya pernyataan ini dapat dilemahkan dalam kasus Amerika Serikat (1800-1990) dan Kerajaan Inggris (1792-1945), yang mengambil kebijakan untuk tidak melakukan ekspansi power, meskipun keduanya memiliki kapabilitas untuk melakukan hal tersebut. Pada kasus Inggris, saat itu mereka tidak berhasil mencapai hegemoni regional di Eropa meskipun banyak melakukan penaklukkan di wilayah lain, sedangkan AS, sebagai negara yang memegang hegemoni Dunia Barat, memutuskan untuk tidak meneruskan hegemoninya di Eropa dan Asia.

Mearsheimer menganggap bahwa dua kasus tersebut tidaklah bertentangan dengan teorinya. Dia berpendapat bahwa dua negara great powers ini memutuskan untuk tidak melakukan ekspansi dikarenakan oleh apa yang disebut “stopping power of water”. Tapi hal ini bertentangan dengan kemampuan Jepang untuk menaklukkan wilayah yang sangat luas dan menjadikannya sebagai regional hegemon. Mearsheimer menjelaskan bahwa Jepang menemui sedikit perlawanan karena Cina pada saat itu bukanlah great powers, dan Uni Soviet lebih cenderung untuk melakukan ekspansi ke Eropa. Penjelasan yang dapat masuk diakal atas pertanyaan mengapa AS dan Inggris tidak melakukan ekspansi adalah dikarenakan kedua negara tersebut mungkin memiliki kepentingan yang berbeda dan bahwa nilai-nilai politik dan ekonomi mereka pada saat itu bertentangan dengan logika offensive realism. Menurut Mearsheimer, AS dan Inggris merupakan negara great powers yang menganut demokrasi liberal. Terlihat bahwa pernyataan Mearsheimer mengenai semua great powers akan bertindak dalam pola yang sama, tidak peduli apa sistem pemerintahan yang mereka anut, dapat digoyahkan.

Lalu, bagaimana dengan kemampuan AS untuk mengontrol Dunia Barat tanpa melakukan penguasaan wilayah? Hal inilah yang tidak dapat dijawab oleh Mearsheimer dalam buku ini. Jika ekspansi power hanya bisa dilakukan oleh great powers yang dapat menaklukkan dan mengontrol suatu wilayah, lalu adakah cara lain yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hegemoni regional yang tidak disebutkan oleh Mearsheimer? Bagi saya ini merupakan pertanyaan penting mengingat teorinya dengan jelas mengakui bahwa perang adalah satu-satunya jalan bagi negara untuk dapat mewujudkan hegemoni regional dan global. Fakta bahwa negara-negara lain tidak berusaha untuk mengimbangi AS dalam melakukan hegemoni regional juga bisa menyangkal pernyataannya.

Teori Mearsheimer juga menjelaskan posisi diplomatik AS dan Inggris. Kedua aktor tersebut mempraktikkan strategi balancing dan buck-passing untuk menghalangi munculnya hegemoni di wilayah Eropa dalam kasus Inggris, dan hegemoni di wilayah lain untuk kasus AS. Jadi, dapat dikatakan bahwa kedua negara “off-shore balancers” ini bertindak berdasarkan logika offensive realism. Tetapi sekali lagi masih terdapat masalah dalam teori Mearshaimer. Mengapa AS bertindak berdasarkan logika offensive realism hanya untuk mengimbangi Jepang dan Jerman, tetapi tidak ditujukkan untuk mewujudkan hegemoni global? Apakah mereka sudah merasa puas dengan status quo? Apakah mereka juga menganggap bahwa biaya yang dibutuhkan untuk ekspansi lebih besar dari keuntungan yang akan mereka peroleh? Jika demikian, ini berarti bahwa logika defensive realism lebih dapat menjelaskan kebijakan luar negeri AS selama tidak semua negara masih menganggap pentingnya meningkatkan kapabilitas power.

Sangat sulit untuk mengatakan bahwa buku ini akan dapat menyamai buku-buku defensive realism, terlebih lagi bukunya Kenneth Waltz. Meskipun buku ini menjelaskan alasan mengapa negara berusaha untuk mencapai hegemoni regional, klaim tersebut dapat dipatahkankan dengan analisnya yang lemah terhadap kebijakan luar negeri AS. Dapatkah nilai-nilai demokrasi liberal AS menjelaskan kondisi anomali ini? Jika bisa, seberapa kuatkah prediksinya terhadap masa depan, dalam dunia dimana negara-negara semakin menjunjung tinggi demokrasi?

Meskipun begitu, menurut saya buku ini sudah sangat cukup untuk menjelaskan teori offensive realism, hanya saja masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengoreksi kelemahan-kelemahan teori tersebut.

Referensi

Waltz, Kenneth. 1979. The Theory of International Politics. New York: McGraw-Hill.

5 comments:

philips vermonte said...

bagus sekali review-nya...

Perez said...

INA.....itu kan rahasia...gimana neh sekretaris wilayah gak bisa jaga rahasia...musuhan...
hehehe gak deng becanda...
uuuu....bakalan malu abis gw kalo dia ampa tau siapa tuh yang namanya astrid....
TAPI GPP KOQ,KAN GW CUMA MUJI DOANK...
Ina jangan lagi yaq..ck..ck..ck
bebek, gw kutuk lo jadi ayam seminggu kalo, tersebar....

Perez said...

SORRY...SALAH COMMENT.....
SORRY BANGET...

Anonymous said...

Bukan suatu hal yang tabu lagi, bahwa kehidupan di dunia ini membentuk suatu garis vertikal dimana dari garis tersebut terdapat 3 ti2k, (kanan,tengah,kiri)masing2 memiliki posisi, kanan merupakan klaim kebenaran,tengah adalah netral, dan kiri adalah salah,benar karena menganggap dirinya salah,sedangkan salah karena diklaim oleh benar, itu anggapan rasionalitas manusia hasil karya tuhan.boleh juga ni buku

wahyuni said...

jadi buku ini kebanyakan ngulas ttg offensive realism ya??
atau d dalamnya juga d kupas ttg defensive realism?